Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari seorang Miyamoto Musashi. Bahkan prinsip-prinsip hidupnya masih bisa kita temukan di buku-buku kepemimpinan dan pengembangan diri yang banyak diminati

Di tahun 1600 yang penuh pergolakan, seorang pemuda menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara, tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir, ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan. Dalam perjalanan pulang, ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan – hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukannya.

Lambat laun ia mengerti bahwa mengikuti jalan pedang bukan sekedar mencari sasaran untuk mencoba kekuatannya. Ia terus mengasah kemampuan, belajar dari alam dan mendisiplinkan diri untuk menjadi manusia sejati. Ia menjadi pahlawan yang tidak mau menonjolkan diri bagi orang-orang yang hidupnya telah ia sentuh atau telah menyentuh dirinya.

Itulah ulasan kisah seorang samurai sejati bernama Miyamoto Musashi yang diangkat dalam sebuah novel yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Novel berlatar belakang sejarah Jepang yang di Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Gramedia ini memang sangat fenomenal, tidak kurang dari 120 juta eksemplar terjual di Jepang, padahal jumlah penduduk Jepang saat itu adalah 110 juta orang.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari seorang Miyamoto Musashi. Bahkan prinsip-prinsip hidupnya masih bisa kita temukan di buku-buku kepemimpinan dan pengembangan diri yang banyak diminati masyarakat Jepang hingga saat ini. Salah satu falsafah hidup yang melekat kuat dari diri Musashi adalah, Ia bertanggung jawab 100% bagi hidupnya. Tidak menyerahkan kendali hidupnya pada orang lain, tidak menyalahkan siapa pun atas kegagalannya. Ketika dia dijebak oleh musuhnya yang jelas-jelas adalah sebuah tindakan curang dan tidak kesatria hingga hampir terbunuh, yang dia lakukan adalah introspeksi diri, bukan menyalahkan tindakan jahat musuh-musuhnya itu.

Bicara tentang bertanggung jawab 100% bagi hidup kita, saya jadi teringat akan sebuah kisah jenaka yang pernah dituturkan oleh pakar Pengembangan Diri yang juga penulis buku laris “Chicken Soup for the Soul”, Jack Canfield. Ada sebuah kisah hikmah tentang seorang laki-laki yang sedang berjalan-jalan pada suatu malam dan melihat seorang laki-laki lain sedang berlutut mencari sesuatu di bawah lampu jalan. Pejalan kaki itu bertanya apa yang sedang di cari. Ia menjawab bahwa ia sedang mencari kuncinya yang hilang. Pejalan kaki itu menawarkan bantuan lalu berlutut dan membantunya mencari kunci itu. Setelah satu jam mencari tanpa hasil, ia berkata, “Kita sudah mencarinya kemana-mana dan belum menemukannya. Anda yakin kunci itu hilang di sini?

Laki-laki yang satunya menjawab, "Tidak, saya kehilangan kunci itu di rumah, tapi di bawah lampu jalan ini lebih terang."

Ya, tanpa disadari kita juga suka melakukan itu. Menyalahkan orang lain untuk ketidak berhasilan kita. Saat target penjualan tidak tercapai, kita menyalahkan tim penjualan kita, bahkan menyalahkan gubernur, mentri perdagangan, hingga presiden yang dianggapnya tidak mampu membuat iklim ekonomi yang kodusif bagi pebisnis dalam negeri. Kalau memang itu yang terjadi, lalu kenapa pesaing kita berhasil mencapai target penjualannya, bukan kah mereka juga tinggal dan berbisnis di negara yang sama? Tentu saja sikap menyalalahkan pihak lain akan ketidak berhasilan kita itu tidak bijak. Itu seperti memecahkan cermin karena wajah kita tidak cantik atau tampan.

Sering kali saya menemukan kondisi seperti ini saat memberikan konsultasi pada pasangan suami istri yang pernikahannya menemui masalah. Biasanya sebelum memberikan masukan kepada mereka berdua dalam waktu yang bersamaan, biasanya terlebih dahulu mereka di panggil satu per satu. Saat itu saya selalu bertanya, siapa sebenarnya yang salah dalam masalah ini? Jawaban sangat mudah ditebak. Jika itu ditanyakan pada si istri, dia akan menjawab yang salah adalah suaminya. Dan jika itu ditanyakan pada si suami, dia akan menjawab yang salah adalah istrinya. Mereka dengan sangat yakin bahwa penyebab dari kekacauannya itu adalah bukan dirinya.

Pembaca yang baik, kalau pun Anda bukan seorang samurai seperti Musashi, tetaplah harus bertanggung jawab 100% pada diri sendiri. Tidak menyalahkan siapa pun atas ketidak berhasilan Anda. Bukankah pelajaran hidup tentang bertanggung jawab pada diri sendiri sudah disampaikan oleh leluhur kita Nabi Adam? Beliau tidak menyalahkan setan yang sudah menggodanya mendekati buah terlarang hingga atas perbuatnnya itu beliau harus berpindah dari surga ke bumi. Nabi Adam mengambil tanggung jawab atas kehilafannya itu dan memohon ampun pada Tuhan.

© 2012 empu Technologies Back to Top

Umpan Balik